“Macet lagi macet lagi, gara-gara Si Komo lewat ….”
Itu lagu anak-anak gubahan Seto Mulyadi atau Kak Seto yang populer pada awal 1990-an. Saat itu Kak Seto yang pendidik itu memotret realitas kehidupan, seperti banjir dan kemacetan, lalu dituangkan dalam lagu untuk mendidik anak-anak tentang persoalan tersebut.
“Saat itu, awal 1990-an, Jakarta sudah macet, tetapi tak separah sekarang. Jalan Kebayoran Lama, Ciputat, Pasar Jumat, yang sering saya lewati itu jam enam pagi sudah macet,” kenang Kak Seto.
Kita tengok ke belakang di era 1960-an. Berkendara di jalan-jalan di sekitar Kebayoran Lama saat itu masih lancar, bahkan bisa dikatakan lengang. Setidaknya itu yang dikenang Nomo Koeswoyo, penabuh drum Koes Bersaudara yang sempat menjadi sopir bemo trayek Kebayoran Lama-Mayestik-Santa.
“Jarak Kebayoran Lama-Mayestik itu dalam kondisi ramai cuma sepuluh menit. Paling lama 15 menit,” kata Nomo yang juga pernah menjadi sopir taksi.
“Jalan-jalan semua masih lancar. Macet itu cuma kalau ada kecelakaan, itupun kecelakaan yang fatal karena orang pada nonton,” kata Nomo yang bersama kakak dan adik-adiknya dalam Koes Bersaudara memopulerkan lagu Bus Sekolah.
Jakarta masih relatif lancar. Kemacetan masih bersifat temporal, seperti bubaran anak sekolah di sekitar jalan Gereja Theresia. Atau di daerah perdagangan, seperti Tanjung Priok, Hayam Wuruk, dan Gajah Mada.
“Kemacetan saat itu disebabkan kendaraan yang menumpuk di satu tempat,” kata Piryanto (47), penggiat lingkungan hidup yang di awal 1970-an sering melewati titik-titik macet, seperti Juanda, Senen, sampai Jatinegara.
Asal tahu saja, pada tahun 1964, di Jakarta “hanya” ada 123.000 kendaraan yang terdiri atas 54.225 mobil angkutan penumpang, 14.315 truk, 3.939 bus, dan 51.117 sepeda motor. Bandingkan dengan data tahun 2006 di mana jumlah mobil pribadi saja mencapai 1. 499.610 dan sepeda motor sampai Maret 2007 mencapai 3.325.790.
Kemacetan pada awal 1960-an hanya sebatas pada tempat keramaian atau lokasi kecelakaan. Kini macet telah menyebar. Tahun 2004, data Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta mencatat ada 38 titik kemacetan. Kini, sampai November 2007, titik kemacetan makin parah, yaitu ada di 112 simpul kemacetan. Wuih….
Tanpa Si Komo lewat pun, Jakarta kini menjadi kota mahamacet.