JALAN protokol Valias, Teheran, Sabtu (22/5) sore. Hujan rintik-rintik membayangi kesibukan salah satu kawasan di ibu kota Iran itu. Beberapa taksi terlihat sibuk bersaing mencari penumpang, sementara sejumlah pejalan kaki terlihat mempercepat langkahnya menuju halte terdekat karena tak ingin kehujanan.
BERJALAN di seantero trotoar di Jalan Valias dan sekitarnya terasa sangat berbeda dengan berjalan di trotoar di Jakarta yang betul-betul banyak “halangan”. Di Teheran, trotoar benar-benar dapat dinikmati sebagai fasilitas untuk pejalan kaki. Dari pengamatan Kompas, kebanyakan trotoar di Teheran lebarnya sekitar 2,5 meter.
Selain lebar, trotoar di Teheran tidak banyak dihuni “pendatang tak diundang”, seperti pengendara sepeda motor yang suka memanfaatkannya untuk menghindari kemacetan atau pedagang kaki lima yang seenaknya menggelar dagangan.
Di Jalan Valias, tidak ada satu pun pengendara sepeda motor yang melintas di trotoar. Kalaupun ada yang “hadir” di trotoar, paling hanya sepeda motor pemilik toko yang diparkir di depan tokonya. Karena trotoarnya lebar, kehadiran sepeda motor yang diparkir itu tidak mengganggu pejalan kaki.
Sebenarnya lalu lintas di Teheran juga tidak rapi-rapi amat. Maka, tidak adanya pengendara sepeda motor melintas di trotoar menjadi fenomena menarik.
Kemacetan temporer tetap saja terjadi, salah satu penyebabnya adalah perilaku pengemudi dan pejalan kaki yang tidak disiplin. Pejalan kaki sering menyeberang tidak pada tempatnya, sementara pengemudi main selonong berbelok saja tanpa tanda lampu.
Hanya saja Teheran masih diuntungkan dengan jumlah kendaraan yang terbatas sehingga tidak sampai menimbulkan kemacetan akut layaknya di Jakarta.
Di sepanjang Jalan Valias pun, tak sampai 10 pedagang kaki lima berjualan di trotoar. Para pedagangnya pun tertib memelihara kebersihan lingkungannya. Di depan sebuah kios bunga, misalnya, sama sekali tak terlihat tangkai yang bertebaran. Semua sampah dibuang di tempat yang disediakan. Sungguh disiplin yang perlu ditiru.
Ali, seorang usahawan yang membuka sebuah kedai makanan mentah di jalan tersebut, menyatakan, adalah hal wajar jika warga Teheran secara sadar memelihara kebersihan lingkungan kotanya. Sebab, yang akan merasakan dampak dari kebersihan itu adalah warga Teheran sendiri. “Misalnya, kita jadi sehat dan tamu-tamu seperti Anda pun senang berkunjung ke sini,” ujar Ali yang pernah beberapa tahun bekerja di sebuah restoran di London, Inggris.
Pemeliharaan halte pun demikian. Meski berukuran lebih kecil daripada halte di Jakarta, halte di Teheran terlihat sangat terawat. Tidak ada coretan-coretan tangan jahil seperti di Jakarta.
“Kenyamanan” halte di Teheran diperindah lagi dengan gemericik air di selokan kecil yang berada tepat di depannya, membatasi halte dengan jalan utama. Airnya jernih sehingga siapa pun dapat melihat bebatuan dengan jelas. Sampah yang masuk ke sungai, ibaratnya, dapat dihitung dengan jari.
Kebersihan tak hanya ada di Jalan Valias. Shahdari Street yang padat juga terlihat bersih meski ada pasar tradisional di sana. Suasana pasarnya sendiri sebenarnya tak jauh berbeda dengan Pasar Tanah Abang atau Pasar Kebayoran Lama, tetapi kebersihannya sungguh sangat terjaga. Pedagang sayur memang menggelar dagangan di jalan-jalan, tetapi mereka sangat hati-hati dalam membuang sampah.
JAKARTA sebenarnya kota yang “bernasib” hampir sama dengan Teheran. Keduanya sama-sama berada di negara berkembang yang sedang bergerak menuju perubahan sistem pemerintahan. Artinya, masyarakat di kedua kota itu bisa dikatakan sama-sama memiliki eforia dalam mengekspresikan pendapatnya.
Dalam hal kepadatan penduduk juga sama saja. Jumlah penduduk diperkirakan 10 juta, sama dengan Jakarta, tetapi wilayahnya jauh lebih sempit.
Namun, dalam hal kedewasaan, warga Jakarta perlu belajar banyak dari masyarakat Teheran yang terlihat lebih berdisiplin dalam menghormati pejalan kaki dan menjaga kebersihan kotanya. “Tidak bisa kebersihan dan ketertiban dibebankan kepada pemerintah saja. Kita harus bersama-sama bertanggung jawab dengan membuang sampah di tempatnya dan mau memungut sampah di jalanan, lalu memasukkannya ke tempat sampah terdekat. Sederhana bukan?” ujar Ali. Ia mengakui, di sana-sini masih banyak kelemahan, tetapi warga Teheran secara perlahan akan memperbaiki.
ADI PRINANTYO, dari Teheran
Kompas: Selasa, 25 Mei 2004