Jakartaku Tinggal Tunggu Tenggelam

Kita sering terkagum-kagum saat mendengar bahwa Kota Amsterdam, Belanda, berada lebih rendah dari permukaan laut. Betapa hebatnya mereka membangun dam agar air laut tak menyerbu daratan, yang bisa menenggelamkan kota itu. Saat berdecak kagum, kita selalu mensyukuri bahwa Indonesia adalah surga dunia. Bahwa situasi itu tak terjadi di Indonesia. Rupanya, kita harus mengubah memori kita. Read the rest of this entry »

“Transjakartaway”

Jaya Suprana

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo tegas menolak tuntutan menghentikan pembangunan proyek bus jalur khusus busway yang dianggap memperparah kemacetan. Penolakan itu benar karena membasmi habis proyek busway ibarat jari gatal, lengan dipotong.

Busway memang bukan satu-satunya penyebab kemacetan jalan di Jakarta karena masih ada perilaku pengguna jalan yang tidak disiplin, peraturan lalu lintas tidak ditegakkan, jumlah kendaraan pribadi setiap tahun meningkat 11 persen, sementara jalur jalan raya bukan ditambah tetapi malah dikurangi busway. Read the rest of this entry »

“Quo Vadis” Jakarta?

Antropolog terkenal Claude Levy Strauss pernah menulis, “Kota ini berkembang demikian cepat sehingga tidak mungkin melakukan perencanaan atasnya”. Kutipan itu berasal dari catatan perjalanannya ke Sao Paolo tahun 1955. Padahal, ketika itu pusat perekonomian Brasil itu baru berpenduduk 2,5 juta jiwa.

Tak terbayangkan, apa yang bakal ditulis Strauss seandainya berkunjung ke Jakarta saat ini. Kemacetan berkepanjangan berbarengan dengan pembangunan jalur baru busway menyebabkan berbagai kerugian yang nilainya sekitar Rp 43 triliun Read the rest of this entry »